AH. WAKIL KAMAL, SH., MH

11 Maret 2009

Parlemen (DPR RI) Berubah di Tangan Anak Muda

Berharap Parlemen Berubah di Tangan Anak Muda
Sejumlah anak muda menjadi sosok yang berperan besar dalam mewujudkan reformasi 1998. Saat itu, mereka masih mahasiswa. Kini sebagian besar bertarung merebut kursi DPR pada Pemilu 2009. Sebesar apa peluang mereka serta apakah bisa merombak parlemen?

Di antara sekian banyak nama calon legislator muda, caleg yang berasal dari aktivis angkatan 1998 tentu tidak bisa dipandang sebelah mata. Berdasar data yang dihimpun Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima), setidaknya 200 nama caleg yang akan bersaing merebut kursi legislatif 2009 adalah mantan aktivis mahasiswa pada era reformasi. Sebanyak 70 persen di antaranya maju sebagai caleg di DPR.

Namun, apakah mereka benar-benar memiliki peluang yang besar untuk lolos sebagai wakil rakyat di parlemen? Sejauh mana peluang mereka untuk berkiprah di gedung Senayan, gedung yang mereka duduki saat Soeharto jatuh?

Sebut saja beberapa nama caleg muda dari PAN. Mantan aktivis HMI Agung E. Ismawanto, misalnya. Dia mendapat nomor urut 5 di dapil Jogjakarta. Padahal, pada Pemilu 2004, PAN hanya mendapat dua kursi. Rekannya, Ahmad Kasino, dari aktivis Forum Kota yang bernomor urut 4 di Jabar V mungkin bernasib sama. Sebab, realitas politiknya, PAN hanya dapat satu kursi dari dapil itu.

Begitu juga mantan Ketua SF UMJ 98-99 Suherlan yang maju di nomor 3 dapil Jabar IX. Berapa kursi yang diperoleh PAN pada pemilu lalu di dapilnya? Hanya satu kursi. Tapi, mereka optimistis karena PAN menganut suara terbanyak.

Realitas politik yang berat juga harus dihadapi Mantan Ketum Presidium Ikatan Senat Mahasiswa Hukum Indonesia (ISMAHI) Ahmad Wakil Kamal dan aktivis Parmusi Hilman Ismail M. Keduanya maju sebagai caleg dari PPP. Ahmad mendapat nomor 8 di Jatim XI. Hilman mendapat nomor 3 di dapil NAD.

Partai berlambang Kakbah itu memang masih meraih kursi pada Pemilu 2004. Di Jatim XI (dulu disebut Jatim X), PPP mendapat dua kursi, sedangkan dapil NAD mendapat satu kursi. Itu jauh lebih kecil daripada nomor urut Ahmad dan Hilman.

Dua mantan kader PRD, Yusuf Lakaseng yang maju di dapil Sulteng dan Dita Indah Sari di dapil Jateng V, tak luput dari tantangan berat. Keduanya memang diberi nomor urut 1 oleh PBR. Tapi, pada Pemilu 2004, partai pimpinan Bursah Zarnubi itu tidak mendapat kursi untuk DPR pusat dari dua dapil tersebut. Cukup berat.

Mantan Ketua Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta (FKSMJ) Sarbini yang maju dari Partai Demokrat malah mendapat nomor paling bawah di dapilnya, yaitu nomor 8 di dapil Banten III. Meski begitu, Sarbini tetap yakin dengan peluangnya karena partainya juga menganut sistem suara terbanyak. Sarbini menilai, masyarakat saat ini tidak hanya melihat kebesaran partai, melainkan kedekatan dengan figur caleg tersebut.

Jika selama masa kampanye mampu menawarkan sesuatu yang diterima masyarakat, dia yakin memiliki peluang lebih besar dibandingkan dengan caleg nomor urut satu sekalipun. ”Meski saya tidak memiliki biaya besar, kelemahan saya akan menjadi kekuatan tersendiri nanti,” ujarnya optimistis.

Sarbini, mantan aktivis Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta (FKSMJ) 1998, menyatakan, ada sejumlah motivasi yang mendasari sejumlah aktivis reformasi maju dalam persaingan kursi legislatif. Menurut dia, perubahan sistem pemilu yang ada saat ini membuat persaingan caleg lebih terbuka.

Hal itu menuntut komunikasi aktif antara caleg dan masyarakat supaya dirinya lebih dikenal. ”Caleg dalam hal ini harus mengetahui masyarakat dan masyarakat harus tahu caleg. Itu sistem yang ideal,” katanya.

Tapi, fakta membuktikan bahwa aktivis 98 yang kini telah duduk di DPR belum mampu berbicara banyak. Selain terbatasnya secara kuantitas, mantan aktivis mahasiswa itu belum mampu menularkan semangat mereka di tingkat parlemen. ”Saya tidak menyebut ini sebuah kegagalan, namun perjuangan individu mereka masih dibatasi oleh kepentingan yang lebih besar,” jelas Sarbini.

Karena itu, kata dia, jika semakin banyak aktivis 98 lolos ke DPR, ke depan ada harapan besar terealisasi koalisi 98 di legislatif. Menurut Sarbini, perjuangan individu seorang anggota dewan akan terbantu jika muncul pikiran-pikiran sama dari anggota dewan yang lain. ”Koalisi itu tidak mudah, namun perspektif kami selama ini tetap sama,” ujar Sarbini.

Harapan semakin banyaknya aktivis 98 di parlemen tetap ada karena ada juga di antara mereka yang menempati nomor jadi. Salah satunya mantan ketua umum Partai Rakyat Demokratik (PRD) Budiman Sudjatmiko. Maju lewat PDIP di dapil Jawa Tengah VIII, ketua Relawan Perjuangan (Repdem) PDIP itu berada di nomor urut satu. Kemungkinan untuk terpilih praktis lebih besar karena pada Pemilu 2004, PDIP di dapil tersebut meraih tiga kursi.

Begitu juga peneliti CSIS Indra Jaya Pilliang yang menjadi caleg dari Partai Golkar. Dia mendapat nomor urut 2 di Sumbar 2. Pada Pemilu 2004, Golkar merebut dua kursi.

Peluang yang sangat besar untuk terpilih juga didapatkan mantan ketua senat Universitas Indonesia Rama Pratama. Caleg dari PKS itu berpeluang sangat besar terpilih kembali sebagai anggota DPR untuk periode kedua karena berada di nomor urut satu dapil DKI Jakarta I. Pada pemilu, di dapil tersebut PKS meraih dua kursi.

Menanggapi semakin banyaknya caleg dari aktivis 98, Rama melihat hal itu sebagai sesuatu yang sangat positif. Menurut dia, berkumpulnya para aktivis tersebut akan menguatkan perjuangan untuk melakukan perubahan terhadap citra parlemen yang makin hari makin terpuruk.

Selama menjadi anggota DPR, dia mengakui memang kurang bisa maksimal memainkan peran. Meski bukan berarti tidak melakukan apa-apa, belum banyak perubahan yang bisa dilakukan. “Faktanya, kami memang tidak bisa menjadi megalomania yang bisa melakukan apa saja seperti bayangan semasa menjadi aktivis,” ujar Rama.

Namun, hal itu sangat mungkin berbeda jika rekan-rekannya sesama mantan aktivis 98 berkumpul lebih banyak lagi. “Kalau makin banyak yang masuk ke parlemen, saya sangat optimis kami akan mampu menciptakan perubahan nyata,” janjinya.

Direktur Eksekutif Reform Institute Yudi Latif menyatakan, harapan publik akan perubahan kualitas DPR dengan keberadaan sejumlah caleg muda itu memang tidak mudah direalisasikan. “Jebakan-jebakan politik, terutama uang, menjadi sandungan utama mereka,” ujarnya.

Dia mengingatkan, yang harus disadari, perjuangan para caleg muda dan mantan aktivis itu bukan berhenti saat mereka terpilih sebagai anggota DPR. “Perjuangan yang riil itu justru setelahnya,” kata pengamat politik dari Universitas Paramadina tersebut. (jp)

sumber:
http://www.gp-ansor.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar